Air Tak Mengalir Saat Ramadhan, Warga Titi Merah Tagih Janji Bupati Batu Bara
Batu Bara | Keluhan masyarakat terhadap pelayanan air bersih kembali mencuat. Kali ini datang dari warga Desa Titi Merah, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, yang mengeluhkan aliran air dari PDAM Tirta Tanjung yang disebut-sebut sering tidak mengalir dalam beberapa bulan terakhir.
Ironisnya, persoalan tersebut terjadi tepat saat masyarakat sedang menjalani bulan suci Ramadhan, ketika kebutuhan air meningkat drastis untuk mandi, memasak, hingga keperluan ibadah sehari-hari.
Sejumlah warga mengaku, air bersih yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar justru kerap tidak tersedia di rumah mereka.
“Sudah beberapa bulan ini air sering tidak mengalir. Apalagi sekarang bulan Ramadhan, kebutuhan air sangat banyak. Kami sangat berharap pemerintah serius memperhatikan masalah ini,” ujar salah seorang warga.
Keluhan serupa juga disampaikan warga Desa Titi Merah, Samsi Warni, yang berharap Bupati Batu Bara dapat turun langsung melihat kondisi yang dialami masyarakat.
Menurutnya, sudah saatnya pemerintah daerah benar-benar mendengarkan suara warga yang selama ini merasa kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kami sangat berharap Bapak Bupati mau mendengar keluhan masyarakat Desa Titi Merah. Air ini kebutuhan pokok. Apalagi di bulan Ramadhan seperti sekarang,” ujar Samsi Warni, Kamis (5/3/2026).
Persoalan ini semakin menjadi sorotan publik, mengingat kepemimpinan Baharuddin Siagian bersama Wakil Bupati Syafrizal telah berjalan sekitar satu tahun sejak dilantik.
Sebagian masyarakat mulai mempertanyakan realisasi berbagai janji pembangunan yang sebelumnya disampaikan saat masa kampanye, termasuk komitmen meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
Warga menilai, persoalan air bersih seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah daerah, karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga meminta adanya penjelasan terbuka mengenai kondisi yang sebenarnya terjadi di tubuh PDAM Tirta Tanjung, khususnya terkait aliran air dari sumber Bahbolon yang didistribusikan melalui sentral di Desa Simpang Gambus.
Hingga kini, warga mengaku belum mendapatkan penjelasan pasti mengenai penyebab seringnya aliran air terhenti.
Masyarakat pun berharap Bupati Batu Bara dapat segera turun langsung meninjau kondisi lapangan sekaligus mengevaluasi kinerja PDAM agar persoalan air bersih tidak terus berlarut-larut.
“Jangan sampai masyarakat hanya disuguhi janji, sementara kebutuhan dasar seperti air bersih justru sulit didapatkan,” ungkap seorang warga dengan nada kecewa.
Bagi masyarakat, persoalan air bersih bukan sekadar masalah teknis. Ini adalah kebutuhan hidup sehari-hari yang tidak bisa ditunda.
Selama satu tahun menjabat, masyarakat Batu Bara kini mulai menarik satu kesimpulan pahit: janji politik sering kali lebih mirip karya seni pajangan — indah saat dipamerkan di panggung kampanye, memikat ketika diucapkan di depan massa, namun rapuh ketika tiba waktunya untuk diwujudkan.
Dulu, tim sukses dan relawan begitu lantang menjual harapan. Infrastruktur air bersih dijanjikan, kesejahteraan digambarkan seolah sudah di depan mata. Namun setahun berlalu, yang tersisa justru tumpukan janji yang belum juga menemukan jalannya menuju kenyataan.
Kini masyarakat hanya bisa bertanya dengan nada getir:
apakah janji itu memang untuk ditepati, atau sekadar dekorasi politik agar terlihat indah saat pemilu?
Sebab bagi rakyat, air bersih bukan bahan pidato, bukan pula slogan kampanye. Itu kebutuhan hidup.
Dan kebutuhan hidup tidak bisa terus menunggu janji yang dibiarkan mengering. (Red)
