Air Tak Mengalir, Slogan “Batu Bara Bahagia” Dipertanyakan: Warga Titi Merah Tantang Bupati Turun ke Lapangan
Batu Bara | Slogan “Batu Bara Bahagia” kini terdengar sumbang di telinga warga Desa Titi Merah, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Jum'at 09/01/2026 Di saat janji kebahagiaan terus digaungkan, air bersih justru tak kunjung mengalir dari kran rumah warga. Pelayanan PDAM Tirta Tanjung kembali menuai kecaman keras.
Warga menilai masalah ini bukan lagi sekadar gangguan teknis, melainkan bentuk kegagalan sistemik yang dibiarkan berlarut-larut. Mereka mendesak Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si. dan Wakil Bupati Syafrizal, S.E., M.AP. untuk turun langsung ke lapangan, bukan sekadar menerima laporan di balik meja.
“Jangan cuma slogan yang mengalir deras, tapi air ke rumah rakyat macet total. Kalau Bupati serius mau rakyat bahagia, silakan datang dan lihat sendiri,” tegas seorang warga Titi Merah.
Ironisnya, kepemimpinan di tubuh PDAM Tirta Tanjung terus berganti. Namun perubahan hanya terjadi di kursi jabatan, bukan pada kualitas pelayanan. Air tetap mati, tekanan lemah, dan keluhan warga seolah jatuh ke ruang hampa.
“Direktur boleh ganti sepuluh kali, tapi kalau air tetap tidak hidup, berarti yang rusak bukan orangnya saja, tapi sistemnya,” ujar warga lainnya dengan nada geram.
Kondisi ini semakin menyulut kemarahan publik karena anggaran negara yang digelontorkan untuk PDAM Tirta Tanjung terbilang fantastis. Dana untuk pembangunan jaringan perpipaan dan sarana pendukung lainnya telah menyedot uang rakyat, namun hasilnya nyaris tak terasa.
“Uang kami dihabiskan, tapi air tidak kami dapatkan. Ini bukan lagi kelalaian, ini penghinaan terhadap kebutuhan dasar rakyat,” kecam warga.
Di Kecamatan Limapuluh Pesisir, ketergantungan terhadap air PDAM sangat tinggi. Air sumur dinilai tidak layak digunakan karena kualitasnya buruk. Tanpa PDAM, warga kesulitan memasak, mencuci, mandi, bahkan untuk kebutuhan paling mendasar sekalipun.
“Air sumur kami payau dan keruh. Kalau PDAM mati, kami harus menumpang hidup. Ini bukan hidup bahagia, ini hidup menderita,” ucap seorang ibu rumah tangga.
Warga menegaskan bahwa Bupati Batu Bara dipilih bukan untuk mengamankan kelompok tertentu atau melindungi manajemen bermasalah, melainkan untuk melayani seluruh masyarakat tanpa kecuali.
“Kalau pemimpin masih diam, patut dipertanyakan: lebih penting melindungi PDAM atau memenuhi hak rakyat?” sindir warga.
Meski bernada keras, warga tetap menyelipkan doa. Mereka berharap Bupati dan Wakil Bupati diberikan kesehatan serta keberanian politik untuk membenahi PDAM Tirta Tanjung secara menyeluruh, bukan sekadar tambal sulam.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Kami hanya menuntut hak dasar: air bersih. Kalau ini saja gagal, lalu di mana letak ‘bahagia’ itu?” pungkas warga. (Red)
