Gritv News.com
Live
wb_sunny

Breaking News

Slogan “Batu Bara Bahagia” Dipertanyakan, Warga Titi Merah Tersiksa Air PDAM Keruh dan Kerap Mati

Slogan “Batu Bara Bahagia” Dipertanyakan, Warga Titi Merah Tersiksa Air PDAM Keruh dan Kerap Mati

Batu Bara | Slogan manis “Batu Bara Bahagia” kini terdengar pahit di telinga warga Desa Titi Merah, Kecamatan Limapuluh Pesisir. Di balik baliho dan pidato seremonial, krisis air bersih justru menjadi realitas pahit yang harus ditelan warga setiap hari akibat buruknya layanan PDAM Tirta Tanjung.

Air PDAM yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar, berubah menjadi sumber masalah. Lebih sering mati daripada mengalir. Kalaupun hidup, airnya keruh, berbau, debit kecil, dan menimbulkan gatal di kulit. Kondisi ini bukan insiden sesaat, melainkan persoalan lama yang dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi permanen.

“Satu hari hidup, dua sampai tiga hari mati. Ini sudah lama kami rasakan. Kami rutin bayar tagihan, tapi pelayanan seperti kami ini tidak dianggap,” ujar Samsiwarni, warga Desa Titi Merah, Minggu (18/01/2026).

Situasi ini menjadi tamparan keras bagi PDAM Tirta Tanjung sebagai BUMD yang dibentuk untuk melayani rakyat. Air bersih bukan fasilitas mewah, melainkan hak dasar warga negara. Namun ironisnya, hak tersebut justru gagal dipenuhi oleh institusi yang dibiayai dari uang rakyat.

Keluhan serupa disampaikan Alda. Ia mengungkapkan air PDAM hanya mengalir kecil dan terbatas, bahkan hanya di jam-jam tertentu. Warga pun terpaksa menampung air seadanya demi bertahan hidup.

“Kalau mau dipakai, harus ditampung dulu. Itu pun airnya kadang keruh. Jelas tidak layak konsumsi,” tegasnya.

Lebih memprihatinkan, Rizki mengaku sudah lama tidak lagi menggunakan air PDAM untuk kebutuhan rumah tangga. Menurutnya, kualitas air PDAM Tirta Tanjung tidak hanya buruk, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan.

“Airnya keruh dan bikin gatal. Sudah lama saya tidak pakai air PDAM untuk mandi, apalagi untuk masak. Untuk mandi saja gatal,” ungkap Rizki.

Parahnya lagi, setiap keluhan warga seolah hanya dijadikan formalitas. Air memang sempat mengalir lancar setelah laporan disampaikan, namun hanya bertahan beberapa hari sebelum kembali mati.

“Ini seperti sandiwara. Dilaporkan, dibenahi sebentar, lalu rusak lagi. Masalahnya tidak pernah benar-benar diselesaikan,” kata Alda dengan nada kecewa.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik yang tak bisa lagi dihindari: apa sebenarnya yang dikerjakan Direktur Utama PDAM Tirta Tanjung? Mengapa persoalan klasik yang menyangkut hajat hidup orang banyak terus berulang tanpa penyelesaian?

Sorotan tajam juga mengarah langsung ke pucuk pimpinan daerah. Bupati Batu Bara H. Baharuddin Siagian, S.H., M.Si. dan Wakil Bupati Syafrizal, S.E., M.AP. dinilai gagal memastikan pelayanan dasar berjalan sebagaimana mestinya. Warga menilai slogan “Batu Bara Bahagia” tak lebih dari jargon kosong di tengah krisis air bersih yang nyata.

“Kalau benar mau rakyat bahagia, jangan biarkan kami hidup tanpa air bersih. Jangan cuma slogan di spanduk,” tegas warga.

Warga mendesak Bupati dan Wakil Bupati turun langsung ke lapangan, melakukan evaluasi total terhadap kinerja PDAM Tirta Tanjung, dan tidak ragu mencopot pejabat yang terbukti gagal menjalankan tugasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Direktur Utama PDAM Tirta Tanjung saat dikonfirmasi hanya menyampaikan, “Terima kasih informasinya, saya cek dulu.” Jawaban singkat ini justru memunculkan ironi lain: apakah manajemen PDAM Tirta Tanjung benar-benar bekerja, atau sekadar reaktif setelah persoalan mencuat ke publik?

Kini masyarakat menunggu keberanian Pemerintah Kabupaten Batu Bara. Berpihak pada rakyat yang kehausan, atau terus membiarkan PDAM Tirta Tanjung menjadi simbol kegagalan pelayanan publik di balik slogan “Batu Bara Bahagia”.

Reporter: Alwi

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama